EPIDEMIOLOGI DIFTERI

Sulis susanti, Nurlaila & Nazli martua  R.R

03 Agustus 2020

 

APA ITU PENYAKIT DIFTERI

Difteria adalah suatu penyakit bakteri akut terutama menyerang tonsil, faring, laring, hidung,  ada kalanya menyerang  selaput  lendir  atau  kulit  serta kadang-kadang konjunngtiva  atau  vagina.  Timbulnya  lesi yang khas disebabkan oleh cytotoxin spesifik yang dilepas oleh bakteri. Lesi nampak sebagai suatu membran asimetrik keabu-abuan yang dikelilingi dengan daerah inflamasi. Tenggorokan terasa sakit, sekalipun pada difteria faucial atau pada difteri faringotonsiler diikuti dengan kelenjar limfe yang membesar dan melunak. Pada kasus-kasus yang berat dan sedang ditandai dengan pembengkakan dan edema dileher dengan pembentukan membran pada trachea secara ektensif dan dapat terjadi obstruksi jalan napas. Difteri hidung biasanya ringan dan kronis dengan satu rongga hidung tersumbat dan terjadi ekskorisasi (ledes). Infeksi subklinis (atau kolonisasi) merupakan kasus terbanyak. Toksin dapat menyebabkan myocarditis dengan heart block dan kegagalan jantung kongestif yang progresif, timbul satu minggu setelah gejala klinis difteri. Bentuk lesi pada difteri kulit bermacam-macam dan tidak dapat dibedakan dari lesi penyakit kulit yang lain, bisa seperti atau merupakan bagian dari impetigo.

 ETIOLOGI PENYAKIT DIFTERI

Penyebab penyakit difteri adalah Corynebacterium diphtheriae berbentuk batang gram positif, tidak berspora, bercampak atau kapsul. Infeksi oleh kuman sifatnya tidak invasive, tetapi kuman dapat mengeluarkan toxin, yaitu exotoxin. Toxin difteri ini, karena mempunyai efek patoligik menyebabkan orang jadi sakit. Ada tiga type variants dari Corynebacterium diphtheriae ini yaitu : type mitis, typeintermedius dan type gravis. Corynebacterium diphtheriae dapat dikalsifikasikan dengan cara bacteriophage lysis menjadi 19 tipe. Tipe 1-3 termasuk tipe mitis, tipe 4-6 termasuk tipe intermedius, tipe 7 termasuk tipe gravis yang tidak ganas, sedangkan tipe-tipe lainnya termasuk tipe gravis yang virulen. Corynebacterium diphtheriae ini dalam bentuk satu atau dua varian yang tidak ganas dapat ditemukan pada tenggorokan manusia, pada selaput mukosa.

GEJALA KLINIS

Gejala klinis penyakit difteri ini adalah :

1.        Panas lebih dari 38oC

2.        Ada psedomembrane bisa di pharynx, larynx atau tonsil.

3.        Sakit  waktu  menelan

4.         Leher membengkak seperti leher sapi (bullneck), disebabkan karena pembengkakan kelenjar   leher.

      Tidak semua gejala-gejala klinik ini tampak jelas, maka setiap anak panas yang sakit waktu menelan harus diperiksa pharynx dan tonsilnya apakah ada psedomembrane. Jika pada tonsil tampak membran putih keabu-abuan disekitarnya, walaupun tidak khas rupanya, sebaiknya diambil sediaan (spesimen) berupa apusan tenggorokan (throat swab) untuk pemeriksaan laboratorium. Gejala diawali dengan nyeri tenggorokan ringan dan nyeri menelan. Pada anak tak  jarang diikuti demam, mual, muntah, menggigil dan sakit kepala. Pembengkakan kelenjar getah bening di leher sering terjadi.

Agen

Agen yang merupakan unsur penting yang berperan penting dalam menyebabkan terjadinya penyakit. Pada penyakit difteri agen yang dimaksud yakni C. diphtheriae. Bakteri ini dianggap sebagai penyebab kausal primer yang artinya pada setiap kasus difteri akan selalu ditemukan bakteri ini. Meskipun adanya bakteri ini belum tentu terjadi penyakit (Azhari, A.R dkk., 2014). C. diphtheriae secara alami terdapat pada tubuh manusia yang merupakan satu-satunya reservoir bakteri ini. Reservoir merupakan tempat atau habitat tempat agen biasanya hidup, tumbuh, dan berkembang biak. Reservoir dapat menjadi sumber agen ditularkan kepada pejamu (Najmah, 2016).

Bakteri ini memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan tubuh manusia sebagai inangnya dan kemudian mampu memproduksi toksin difteri yang sangat berbahaya (Ryadi, 2016).

Infektifitas dari bakteri ini juga menyebabkan penyebaran penyakit difteri melalui orang ke orang terutama orang-orang terdekat melalui droplet penderita. Selain itu, bakteri ini memiliki kemampuan menyebabkan penderita karier dimana tidak nampak sama sekali tanda dan gejala penyakit ini.

Klasifikasi Difteri

Widoyono (2011) mengklasifikasikan difteri menjadi dua jenis difteri, yaitu:

a.       Difteri Tipe Respirasi

Difteri tipe ini disebabkan oleh strain bakteri yang memproduksi toksin (toksigenik). Biasanya dapat menyebabkan gejala yang berat sampai meninggal. Difteri tipe respirasi terbagi lagi menjadi beberapa tipe, yaitu:

1)      Difteri hidung (anterior nasal diphteria)

 Difteria ini umumnya timbul pada bayi.

 

 

2)      Difteri faucial

Merupakan bentuk paling umum dari difteri. Gejala dapat berupa tonsilitis disertai dengan pseudomembran yang berwarna kuning keabuan pada salah satu atau kedua tonsil. Pseudomembran dapat membesar hingga ke uvula, palatum mole, orofaring, nasofaring, atau bahkan laring. Gejala dapat disertai dengan mual, muntah, dan disfagia.

3)      Difteri tracheolaryngeal

Difteri laring biasanya terjadi sekunder akibat difteri faucial. Difteri tracheolaryngeal dapat menimbulkan gambaran bullneck pada pasien difteri akibat cervical adenitis dan edema yang terjadi pada leher. Timbulnya bullneck merupakan tanda dari difteri berat, karena dapat timbul obstruksi pernapasan akibat lepasnya pseudomembran sehingga pasien membutuhkan trakeostomi.

4)      Difteri maligna

Hal ini merupakan bentuk difteri yang paling parah dari difteri. Toksin secara cepat menyebar dengan demam tinggi, denyut nadi cepat, penurunan tekanan darah dan sianosis. Biasanya penyebaran membran meluas dari tonsil, uvula, palatum, hingga lubang hidung. Gambaran bullneck dapat terlihat, dan timbul perdarahan dari mulut, hidung, dan kulit. Gangguan jantung berupa heart block muncul beberapa hari sesudahnya (FK UB, 2016).

b.      Difteri Kutan/Kulit

c.       Difteri ini menyerang pada kulit dengan gejala yang ringan disertai peradangan yang tidak khas dan sulit untuk dikenali sehingga seringkali tidak masuk dalam catatan kasus maupun program penanggulangan. Disebabkan oleh strain bakteri toksigenik maupun nontoksigenik. Difteri kutan saat ini lebih sering muncul daripada penyakit nasofaring di negara barat. Hal ini berkaitan dengan alkoholisme dan kondisi lingkungan yang tidak higienis (FKUB, 2016).

Masa Inkubasi dan Klinis

Masa inkubasi difteri adalah 2-5 hari (berkisar, 1-10 hari). Penyakit ini dapat melibatkan hampir semua membrane mukosa. Gambaran klinik tergantung pada lokasi anatomi yang dikenai. Beberapa tipe difteri berdasarkan lokasi anatomi adalah :

1.       Difteria Hidung

Gejalanya paling ringan dan jarang terjadi ( hanya 2% ). Mula-mula hanya tampak pilek, tetapi kemudian sekret yang keluar tercampur darah sedikit yang berasal dari pseudomembran. Penyebaran pseudomembran dapat pula mencapai laring dan faring. Penderita diobati seperti penderita lainnya seperti anti toksin dan terapi antibiotic. Bila tidak diobati akan berlangsung mingguan dan merupakan sumber utama penularan.

2.      Difteria Faring dan Tonsil

Paling sering dijumpai (kurang lebih 75%). Gejala mungkin ringan. Hanya berupa radang pada selaput lender dan tidak membentuk pseudomembran sedangkan diagnosis dapat dibuat atas dasar hasil biakan yang positif. Dapat sembuh sendiri dan memberikan imunitas pada penderita. Pada penyakit yang lebih berat, mulainya seperti radang akut tenggorok dengan suhu yang tidak terlalu tinggi, dapat ditemukan pada pseudomembran yang mula-mula hanya berupa bercak putih keabu-abuan yang cepat meluas ke nasofaring atau ke laring. Napas berbau dan timbul pembengkakan kelenjar regional sehingga leher tampak seperti leher sapi (bull neck). Brennernan dan Mc Quarne (1956) menyatakan bahwa setiap bercak keputihan diluar tonsil dapat dianggap sebagai difteria, sedangkan Herdarshee menegaskan lebih lanjut bahwa setiap membrane yang menutupi dinding posterior faring atau menutupi seluruh permukaan tonsil baik satu maupun kedua sisi dapat dinggap sebagai difteria.

3.      Difteria Laring dan Trakea

Dengan gejala tidak bisa bersuara, sesak, nafas berbunyi, demam sangat tinggi sampai 40 derajat celsius, sangat lemah, kulit tampak kebiruan, pembengkakan kelenjar leher. Difteri jenis ini merupakan difteri paling berat karena bisa mengancam nyawa penderita akibat gagal nafas. 5 Lebih sering sebagai penjalaran difteria faring dan tonsil ( 3 kali lebih banyak ) daripada primer mengenai laring. Gejala gangguan napas berupa suara serak dan stidor inspirasi jelas dan berat dapat timbul sesak napas hebat, sinosis dan tampak retraksi suprastemal serta epigastrium. Pembesaran kelenjar regional akan menyebabkan bull neck ( leher sapi ). Pada pemeriksaan laring tampak kemerahan, sembab, banyak secret dan permukaan ditutupi oleh pseudomembran. Bila anak terlihat sesak dan payah sekali maka harus segera ditolong dengan tindakan trakeostomi sebagai pertolongan pertama.

4.      Difteria Cutaneous ( kulit )

Gejala berupa luka mirip sariawan pada kulit dan vagina dengan pembentukan membran diatasnya. Namun tidak seperti sariawan yang sangat nyeri, pada difteri, luka yang terjadi cenderung tidak terasa apa apa.5 Di Amerika Serikat, difteri kutaneus sering dikaitkan dengan orang-orang tunawisma. Merupakan keadaan yang jarang sekali terjadi. Tan Eng Tie (1965 ) mendapatkan 30% infeksi kulit yang diperiksanya mengandung kuman difteria. Dapat pula timbul di daerah konjungtiva, vagina dan umbilicus.

Penularan

Sumber penularan yang utama adalah penderita maupun karier difteri. Karier merupakan orang yang terinfeksi difteri (hidung maupun tenggorok) tetapi tidak mengalami gejala penyakit. Masa penularan difteria dari penderita adalah 2-4 minggu, jarang hingga 4 minggu (Widoyono, 2011; Kartono, 2018). Pada penderita yang menerima pengobatan dengan antibiotik, masa menularnya hanya 1-2 hari (Kartono, 2008). Sementara untuk karier penularaan bisa mencapai 6 bulan.

Biasanya mereka yang berada di sekitar orang yang terinfeksi difteri sangat rentan tertular penyakit ini seperti keluarga dekat, teman sekolah, teman bermain, tetangga, atau rekan kerja. Penularan terjadi melalui droplet yakni ketika penderita maupun karier batuk atau bersin (Widoyono, 2011). Selain itu, debu atau muntahan juga bisa menjadi sumber penularan. Jarang terjadi penularan melalui peralatan yang tercemar lesi pederita difteri kulit. Dikatakan pula susu yang tidak dipasteurisasi dapat berperan sebagai media penularan difteri (Chin, J.,

2000).

 

 

 

 

PENANGANAN

1.      Pencegahan

a.        Isolasi Penderita

Penderita difteria harus di isolasi dan baru dapat dipulangkan setelah pemeriksaan sediaan langsung menunjukkan tidak terdapat lagi Corynebacterium diphtheriae.

b.        Imunisasi

Pencegahan dilakukan dengan memberikan imunisasi DPT (difteria, pertusis, dan tetanus) pada bayi, dan vaksin DT (difteria, tetanus) pada anak-anak usia sekolah dasar.

c.        Pencarian dan kemudian mengobati karier difteria

Dilakukan dengan uji Schick, yaitu bila hasil uji negatif (mungkin penderita karier pernah mendapat imunisasi), maka harus diiakukan hapusan tenggorok. Jika ternyata ditemukan Corynebacterium diphtheriae, penderita harus diobati dan bila perlu dilakukan tonsilektomi.

2.      Pengobatan

Tujuan pengobatan penderita difteria adalah menginaktivasi toksin yang belum terikat secepatnya, mencegah dan mengusahakan agar penyulit yang terjadi minimal, mengeliminasi C. diptheriae untuk mencegah penularan serta mengobati infeksi penyerta dan penyulit difteria.

a.        Pengobatan Umum

Pasien diisolasi sampai masa akut terlampaui dan biakan hapusan tenggorok negatif 2 kali berturut-turut. Pada umumnya pasien tetap diisolasi selama 2-3 minggu. Istirahat tirah baring selama kurang lebih 2-3 minggu, pemberian cairan serta diet yang adekuat. Khusus pada difteria laring dijaga agar nafas tetap bebas serta dijaga kelembaban udara dengan menggunakan humidifier

b.        Pengobatan Khusus 

1)        Antitoksin : Anti Diptheriar Serum (ADS) 

Antitoksin harus diberikan segera setelah dibuat diagnosis difteria. Dengan pemberian antitoksin pada hari pertama, angka kematian pada penderita kurang dari 1%. Namun dengan penundaan lebih dari hari ke-6 menyebabkan angka kematian ini bisa meningkat sampai 30%. Sebelum pemberian ADS harus dilakukan uji kulit atau uji mata terlebih dahulu. 

2)        Antibiotik

Antibiotik diberikan bukan sebagai pengganti antitoksin, melainkan untuk membunuh bakteri dan menghentikan produksi toksin. Pengobatan untuk difteria digunakan eritromisin , Penisilin, kristal aqueous pensilin G, atau Penisilin prokain.

3)        Kortikosteroid

Dianjurkan pemberian kortikosteroid pada kasus difteria yang disertai gejala.

c.        Pengobatan Penyulit

Pengobatan terutama ditujukan untuk menjaga agar hemodinamika tetap baik. Penyulit yang disebabkan oleh toksin umumnya reversibel. Bila tampak kegelisahan, iritabilitas serta gangguan pernafasan yang progresif merupakan indikasi tindakan trakeostomi.

 

d.       Pengobatan Kontak

Pada anak yang kontak dengan pasien sebaiknya diisolasi sampai tindakan berikut terlaksana, yaitu biakan hidung dan tenggorok serta gejala klinis diikuti setiap hari sampai masa tunas terlampaui, pemeriksaan serologi dan observasi harian. Anak yang telah mendapat imunisasi dasar diberikan booster toksoid difteria.

e.        Pengobatan Karier

Karier adalah mereka yang tidak menunjukkan keluhan, mempunyai uji Schick negatif tetapi mengandung basil difteria dalam nasofaringnya. Pengobatan yang dapat diberikan adalah penisilin 100 mg/kgBB/hari oral/suntikan, atau eritromisin 40 mg/kgBB/hari selama satu minggu. Mungkin diperlukan tindakan tonsilektomi/adenoidektomi.

 

DAFTAR PUSTAKA

Kadun I Nyoman, 2006, Manual Pemberantasan Penyakit Menular, CVInfomedika, Jakarta

 

Widoyono.2005.Penyakit Tropis Epidemiologi Penularan dan Pemberantasannya.Erlanggga: Jakarta.

 

Iskandar,Nurbaiti,dkk.editor;Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok.Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.2000.Hal 177-178. 3

 

Asuhan Keperawatan Difteri.2010, diakses dari http://www.scribd.com/doc/13758759/DIFTERI

 

Hastomo.2008.Makalah Tentang Penyakit Menular Difteri.Politeknik Kesehatan Yogyakarta, diakses dari http://www.scribd.com/doc/22270094/difteri

 

Comments