DIARE
DIARE
1. Definisi penyakit diare
Diare secara epidemiologik didefinisikan sebagai keluarnya tinja yang lunak atau cair tiga kali atau lebih dalam satu hari dengan atau tanpa darah dan lendir. Penilaian penderita diare, harus dimulai dengan menanyakan kapan episodediare dimulai. Bayi mengeluarkan tinja yang normal 1-2 hari. Penentuan diare padabayi dilakukan jika periode normal tidak lebih dari 2 hari, maka dinyatakan sebagaisatu episode diare. Akan tetapi, bila periode normalnya lebih dari 2 hari, maka diare berikutnya dinyatakan episode diare baru.
2 Etiologi
Penyebab diare pada bayi tidak dapat dilepaskan dari kebiasaan hidup sehat dari setiap keluarga. Faktor tersebut meliputi pemberian ASI, makanan pendamping ASI,penggunaan air bersih yang cukup, kebiasaan mencuci tangan, menggunakan jamban dan membuang tinja bayi dengan benar. Semua itu memberikan kontribusi yang besar terhadap kesehatan lingkungan keluarga. Ada beberapa faktor yang berkaitan dengan kejadian diare yaitu tidak memadainya penyediaan air bersih, air tercemar oleh tinja, kekurangan sarana kebersihan, pembuangan tinja yang tidak higienis, kebersihan perorangan dan lingkungan yang jelek, serta penyiapan dan penyimpanan makanan yang tidak semestinya. Beberapa faktor yang secara langsung maupun tidak langsung dapat menjadi faktor pendorong terjadinya diare, yang terdiri dari faktor agent, penjamu, lingkungan dan perilaku. Faktor yang menyebabkan kerentanan terhadap diare, diantaranya tidak memberikan Air Susu Ibu (ASI) selama 2 tahun, kurang gizi, penyakit campak, dan imunodefisiensi. Faktor lingkungan yang paling dominan yaitu sarana penyediaanair bersih dan pembuangan tinja, kedua faktor ini akan berinteraksi bersama dengan perilaku manusia seperti kurangnya pengetahuan orang tua, hygiene yang kurang baik perorangan maupun lingkungan. Di negara berkembang seperti halnya Indonesia, Escherichia coli merupakan salah satu faktor terbesar penyebab diare. Kondisi lingkungan yang tidak sehat oleh karena sumber-sumber air bersih yang telah tercemar serta perilaku manusia yang tidak sehat, menyebabkan penularan diare dapat terjadi dengan mudah. Di negara maju, agent penyebab diare selain E.Coli yang sering menyebabkan diare akut dan persisten adalah Giardia lamblia.
3.Jenis diare
Menurut Depkes RI, berdasarkan jenisnya diare dibagi empat yaitu :
1. Diare Akut
Diare akut yaitu, diare yang berlangsung kurang dari 14 hari (umumnya kurang dari 7 hari). Akibatnya adalah dehidrasi, sedangkan dehidrasi merupakan penyebab utama kematian bagi penderita diare.
2 Disentri
Disentri yaitu, diare yang disertai darah dalam tinjanya. Akibat disentri adalah anoreksia, penurunan berat badan dengan cepat, dan kemungkinan terjadinnya komplikasi pada mukosa.
3 Diare persisten
Diare persisten, yaitu diare yang berlangsung lebih dari 14 hari secara terus menerus. Akibat diare persisten adalah penurunan berat badan dan gangguan metabolism.
4 Diare dengan masalah lain
Anak yang menderita diare (diare akut dan diare persisten) mungkin juga disertai dengan penyakit lain, seperti demam, gangguan gizi atau penyakit lainnya.
4 Gejala diare
Gejala-gejala diare adalah sebagai berikut:
a. Bayi atau anak menjadi cengeng dan gelisah. Suhu badannya pun meninggi,
b. Tinja bayi encer, berlendir atau berdarah,
c. Warna tinja kehijauan akibat bercampur dengan cairan empedu,
d. Lecet pada anus,
e. Gangguan gizi akibat intake (asupan) makanan yang kurang,
f. Muntah sebelum dan sesudah diare,
g. Hipoglikemia (penurunan kadar gula darah), dan
h. Dehidrasi (kekurangan cairan).
Dehidrasi dibagi menjadi tiga macam, yaitu dehidrasi ringan, dehidrasi sedang dan dehidarsi berat. Disebut dehidrasi ringan jika cairan tubuh yang hilang 5%. Jika cairan yang hilang lebih dari 10% disebut dehidrasi berat. Pada dehidrasi berat, volume darah berkurang, denyut nadi dan jantung bertambah cepat tetapi melemah, tekanan darah merendah, penderita lemah, kesadaran menurun dan penderita sangat pucat.
5 Epidemiologi penyakit diare
Diare pada bayi adalah salah satu faktor penyebab kematian terbesar di seluruh dunia.Karena sistem homeostasis cairan dan sistem imunologi pada bayi yang belum matur memudahkan terjadinya komplikasi. Diagnosis dini dan pengobatan yang tepat waktu sangatlah penting karena diare pada bayi dapat memperburuk keadaan bayi yang berujung pada dehidrasi dan malnutrisi. Pada beberapa tahun terakhir, jumlah kematian yang diakibatkan diare mulai menunjukkan penrunan, hal ini disebabkan oleh peningkatan hygiene
Menurut Depkes RI (2005), epidemiologi penyakit diare adalah sebagai berikut :
a. Penyebaran kuman
yang menyebabkan diareKuman penyebab diare biasanya menyebar melalui fecal oral antara lain melalui makanan atau minuman yang tercemar tinja dan atau kontak langsung dengan tinja penderita. Beberapa perilaku dapat menyebabkan penyebaran kuman enterik dan meningkatkan risiko terjadinya diare, antara lain tidak memberikan ASI secara penuh 4-6 bulan pada pertama kehidupan, menggunakan botol susu, menyimpan makanan masak pada suhu kamar, menggunakan air minum yang tercemar, tidak mencuci tangan sesudah buang air besar atau sesudah membuang tinja anak atau sebelum makan atau menyuapi anak, dan tidak membuang tinja dengan benar.
b. Faktor predisposisi yang meningkatkan kerentanan terhadap diare
Faktor predisposisi dapat meningkatkan insiden, penyakit dan lamanya diare. Faktor-faktor tersebut adalah tidak memberikan ASI sampai umur 2 tahun, kurang gizi, campak, imunodefisiensi atau imunosupresi dan secara proposional diare lebih banyak terjadi pada golongan bayi.
c. Faktor lingkungan dan perilaku
Penyakit diare merupakan salah satu penyakit yang berbasis lingkungan. Dua faktor yang dominan, yaitu sarana air bersih dan pembuangan tinja. Kedua faktor ini akan berinteraksi dengan perilaku manusia. Apabila faktor lingkungan tidak sehat karena tercemar kuman diare serta berakumulasi dengan perilaku yang tidak sehat pula, yaitu melalui makanan dan minuman, maka dapat menimbulkan kejadian diare.
d. Faktor Sosiodemografi
Demografi adalah ilmu yang mempelajari persoalan dan keadaan perubahan-perubahan penduduk yang berhubungan dengan komponen-komponen perubahan tersebut seperti kelahiran, kematian, migrasi sehingga menghasilkan suatu keadaan dan komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin tertentu. Dalam pengertian yang lebih luas, demografi juga memperhatikan berbagai karakteristik individu maupun kelompok yang meliputi karakteristik sosial dan demografi, karakteristik pendidikan dan karakteristik ekonomi. Karakteristik sosial dan demografi meliputi: jenis kelamin, umur, status perkawinan, dan agama. Karakteristik pendidikan meliputi: tingkat pendidikan. Karakteristik ekonomi meliputi jenis pekerjaan, status ekonomi dan pendapatan.Faktor sosiodemografi utama pada ibu yang berpengaruh pada terjadinya diare yaitu tingkat pendidikan ibu. Jenjang pendidikan memegang peranan cukup penting dalam kesehatan masyarakat. Pendidikan masyarakat yang rendah menjadikan mereka sulit diberi tahu mengenai pentingnya higyene perorangan dan sanitasi lingkungan untuk mencegah terjangkitnya penyakit menular, diantaranya diare. Dengan sulitnya mereka menerima penyuluhan, menyebabkan mereka tidak peduli terhadap upaya pencegahan penyakit menular.
e. Faktor lingkungan
Faktor-faktor lingkungan yang berpengaruh pada timbulnya penyakit diare yaitu:
1.Sumber air minum
Air sangat penting bagi kehidupan manusia. Di dalam tubuh manusiasebagian besar terdiri dari air. Tubuh orang dewasa sekitar 55-60% berat badan terdiri dari air, untuk anak-anak sekitar 65% dan untuk bayi sekitar 80%. Kebutuhan manusia akan air sangat kompleks antara lain untuk minum, masak, mandi, mencuci dan sebagainya. Di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia tiap orang memerlukan air antara 30-60 liter per hari. Di antara kegunaan-kegunaan air tersebut, yang sangat penting adalah kebutuhan untuk minum. Oleh karena itu, untuk keperluan minum dan masak air harus mempunyai persyaratan khusus agar air tersebut tidak menimbulkan penyakit bagi manusia. Sumber air minum utama merupakan salah satu sarana sanitasi yang tidak kalah pentingnya berkaitan dengan kejadian diare. Sebagian kuman infeksius penyebab diare ditularkan melalui jalur fekal oral. Mereka dapat ditularkan dengan memasukkan ke dalam mulut, cairan atau benda yang tercemar dengan tinja, misalnya air minum, jari-jari tangan, dan makanan yang disiapkan dalam panci Yang dicuci dengan air tercemar.
.
2.Jenis tempat pembuangan tinja
Pembuangan tinja merupakan bagian yang penting dari kesehatanlingkungan. Pembuangan tinja yang tidak menurut aturan memudahkan terjadinya penyebaran penyakit tertentu yang penularannya melalui tinja antara lain penyakit diare. Syarat pembuangan kotoran yang memenuhi aturan kesehatan adalah :
1) Tidak mengotori permukaan tanah di sekitarnya,
2) Tidak mengotori air permukaan di sekitarnya,
3) Tidak mengotori air dalam tanah di sekitarnya.
4) Kotoran tidak boleh terbuka sehingga dapat dipakai sebagai tempat lalatbertelur atau perkembangbiakan vektor penyakit lainnya,
5) Tidak menimbulkan bau,
6) Pembuatannya murah, dan
7) Mudah digunakan dan dipelihara.
f. Faktor perilaku
Menurut Depkes RI (2005), faktor perilaku yang dapat menyebabkan penyebaran kuman enterik dan meningkatkan risiko terjadinya diare adalah sebagai berikut :
1.Pemberian ASI eksklusif
ASI turut memberikan perlindungan terhadap diare. Tidak memberikan ASIEksklusif secara penuh selama 4 sampai 6 bulan. Pada bayi yang tidak diberi ASI risiko untuk menderita diare lebih besar dari pada bayi yang diberi ASI penuh dan kemungkinan menderita dehidrasi berat juga lebih besar. Pada bayi yang baru lahir, pemberian ASI secara penuh mempunyai daya lindung 4 kali lebih besar terhadap Diare daripada pemberian ASI yang disertai dengan susu formula.
2.Penggunaan botol susu
Penggunaan botol susu memudahkan pencemaran oleh kuman, karena botolsusu susah dibersihkan. Penggunaan botol untuk susu formula, biasanya menyebabkan risiko tinggi terkena diare sehingga mengakibatkan terjadinya gizi buruk.
3.Kebiasaan cuci tangan
Kebiasaan yang berhubungan dengan kebersihan perorangan yang pentingdalam penularan kuman diare adalah mencuci tangan. Mencuci tangan dengan sabun, terutama sesudah buang air besar, sesudah membuang tinja anak, sebelum menyuapi makan anak dan sesudah makan, mempunyai dampak dalam kejadian diare.
4. Kebiasaan membuang tinja
Membuang tinja (termasuk tinja bayi) harus dilakukan secara bersih danbenar. Banyak orang beranggapan bahwa tinja bayi tidaklah berbahaya, padahal sesungguhnya mengandung virus atau bakteri dalam jumlah besar. Tinja bayi dapat pula menularkan penyakit pada anak-anak dan orang tuanya.
5.Menggunakan air minum yang tercemar
Air mungkin sudah tercemar dari sumbernya atau pada saat disimpandirumah. Pencemaran dirumah dapat terjadi kalau tempat peyimpanan tidak tertutup atau tangan yang tercemar menyentuh air pada saat mengambil air dari tempat penyimpanan. Untuk mengurangi risiko terhadap diare yaitu dengan menggunakan air yang bersih dan melindungi air tersebut dari kontaminasi.
6. Menggunakan jamban
Penggunaan jamban mempunyai dampak yang besar dalam penularan risikoterhadap penyakit diare. Keluarga yang tidak mempunyai jamban sebaiknya membuat jamban dan keluarga harus buang air besar di jamban. Jamban keluarga harus berjarak kurang lebih 10 meter dari sumber air, serta hindari buang air besar tanpa alas kaki.
7.Pemberian imunisasi campak
Diare sering timbul menyertai campak, sehingga pemberian imunisasi campak juga dapat mencegah diare. Oleh karena itu segera memberikan anak imunisasi campak setelah berumur 9 bulan. Diare sering terjadi dan berakibat berat pada anakanak yang sedang menderita campak, hal ini sebagai akibat dari penurunan kekebalan tubuh penderita.
Comments
Post a Comment